468x60 Ads

RELIGION CORNER
TRAVEL STORY
HEALTH INFO
FEATURES STORY
TALKING BUSINESS
CULTURE/ART

Minggu, 24 April 2016

Bener Meriah, Negeri Yang Diberkahi


Kamu tahu kenapa aku sangat terobsesi dengan kata "Jauh" dan "Pulang"? 
Ini bukan soal aku ingin lari dari masalah atau menyerah untuk kembali. Aku lebih suka menyebutnya ini adalah fitrah sebagai manusia. Maksudnya?!
Baik, akan kujelaskan sedikit. Aku rasa dengan menyebut satu nama kamu akan paham maksudku. "ADAM". 

*** 

Hari ini aku "Pulang." 
Tidak jauh. Perjalanan ini hanya memakan waktu sekitar tujuh sampai delapan jam saja dari Banda Aceh. Kurasa cukup untuk sekedar menikmati harumnya asap kendaraan atau catwalk ternak-ternak bak model ternama, atau beberapa lubang jalan yang aku tak tau itu apa gunanya dalam aturan berlalu lintas. Kupikir aku tidak salah jalan melewati track Motorcross atau track olahraga extrem lainnya. Kalau kawanku bilang "Nikmati saja dulu, mungkin itu jadi cadangan pekerjaan saat benar-benar kerjaan mereka kelar semua atau bahkan tunggu saja saat menjelang pilkada tiba."
...
Sepanjang jalan aku coba mengamati apa saja yang kulewati. Aku selalu antusias melihat perubahan, atau sekedar hal baru yang mungkin luput dari pandanganku saat melewati jalan itu sebelumnya.
Menurutku tidak banyak yang berbeda dan aku yakin jalan ini tidak akan membuatku tersesat sampai ditempat tujuan nantinya.

***

Perjalanan pulang ini adalah pulang ke kampung halaman. Teruntuk yang sering stalking Facebook atau Instagram @Kukuh_Tirtariga kamu pasti tau dimana itu. . . . yaaa.. apa lagi kalau bukan Bener Meriah. Negeri di Atas Awan, Kota Dingin, Dataran Tinggi Tanah Gayo, atau apalah itu julukannya lagi.
Dan kali ini aku ingin tawarkan kau satu sebutan lagi ... "Negeri yang Diberkahi."

***

***

Tahun lalu aku berkunjung ke Kota Bandung. Kota ini memiliki banyak julukan. Mereka menyebutnya sebagai Kota Kembang, Negeri Parahyangan, Bandung Lautan Api, Paris Van Java dan lain sebagainya. Bahkan, yang menurutku lebih menarik lagi saat aku berkunjung ke Gedung Konfrensi Asia Afrika, KAA. Di sebuah dinding tertulis "Bumi Pasundan lahir ketika Tuhan sedang tersenyum." Kata-kata itu menurutku seperti magic, menunjukkan kecintaan warganya kepada kota itu. Kalimat ajaib itu setidaknya mampu membius aku yang pertama kali menginjakkan kaki di Negeri Pasundan dan sendiri dan membuat jatuh cinta dan dengan kota Kembang ini. 

***
Saat aku sedang berpikir untuk menulis catatan ini, aku sedang berteduh dari sambutan hujan di sebuah cafee di lokasi wisata alam Weh Kulus. Aku kembali teringat Bandung. Saat itu aku juga di sambut dengan hujan. Cuacanya nyaris jadi sama dengan Kota kelahiranku. Bener Meriah. Aku tak sampai hati bilang mereka sama. Apalagi jika dari kemajuan pembangunannya. Tapi setidaknya menurutku mereka berpeluang untuk menjadi mirip. Sebut saja dari cuacanya yang relatif sering hujan. Subur tanahnya yang mampu menumbuhkan berbagai jenis tanaman, hingga gaografisnya yang menurutku Bener Meriah bisa berpeluang menjadi Kota seperti Bandung. 

Biarkan aku bermain perumpamaan sejenak... 

Jika Jakarta adalah Banda Aceh, maka Bener Meriah adalah Bandungnya Aceh untuk berlibur dari rutinitas pekerjaan. 
Jika Bandung tercatat memiliki sejarah nasionalnya dengan KAA atau peristiwa Bandung Lautan Api, Bener Meriah memiliki Radio Rimba Raya yang menyiarkan kemerdekaan Indonesia ke penjuru dunia. 
Jika Bandung mampu memasok sayuran atau bunga ke beberapa daerah termasuk Jakarta, Bener Meriah merupakan lumbung pertanian untuk provinsi Aceh. 
Soal tempat wisata tak usah ditanya. Dilain kesempatan aku akan berbagi juga tentang Keindahan Negeri yang Diberkahi ini. 
Satu lagi, Jika Bandung memiliki gadis yang cantik, Bener Meriah apa kurangnya. Terlebih unlimited pria tampannya. hehe
Potensi-potensi itu tentu tidak menjadi Cet Langet semata atau hayalan disaat senja. Tentu bisa kita wujudkan dengan optimisme yang kuat dan kerja keras. 
Jika Bandung bisa kenapa kita tidak?!
Jika Bandung tercipta saat Tuhan sedang tersenyum, Bener Meriah tercipta dan diberkahi Ilahi Rabbi.
***

Tidak kah kau ingin tahu kenapa aku menyebut Bener Meriah sebagai Negeri yang Diberkahi?
Terlepas dari keindahan dan segala keberkahan yang memang dihadiahkan oleh sang Ilahi di negeri ini. Sebutan itu bermula dari secangkir kopi saat ku berteduh dari hujan tadi.
Kau tahu apa yang mereka sebut saat hujan tiba? Hujan adalah berkah.
Kau tahu berapa kali hujan turun di kota dingin ini? Sering sekali. Terlebih jika kita menyebut embun juga bagian dari hujan. Hujan yang tidak menetes dari langit, namun dari daratan bumi.
Ku ulangi lagi, terlepas dari keindahan dan segala keberkahan yang memang dihadiahkan oleh sang Ilahi di negeri ini, lantas apa sebutan yang tepat untuk Bener Meriah???
Ia adalah "Negeri yang Diberkahi"

***




Selasa, 23 Desember 2014

PESONA PANTAI MAHASISWA aka ALUE NAGA

Kali ini tentang pantai. Tentang gemersik butiran-butiran pasir. Terjangan gulungan ombak lautan lepas. Sejuknya angin samudera dan tentang pesona saat senja mulai tiba. 
Ini di Alue Naga. Aku bilang pantai mahasiswa, karena pantai ini menjadi tempat berkumpulnya para mahasiswa di kota Banda Aceh. Entah karena dekat dengan kampus, mungkin karena indah, atau barangkali karena gratis. :D 
Kalau sore tiba, ada saja mahasiswa yang menghabiskan senjanya disana. setiap hari seakan tak ada habisnya. 
Pantai ini cukup strategis untuk dinikmati para mahasiswa. letaknya di kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh. Tidak jauh dari kampus. Pun indah dan gratis pula. 
Selain pantai, tempat ini juga menawarkan keindahan lainnya, seperti muara sungai yang bisa dijadikan spot memancing, selfie menghadap pulau Weh, atau Pulau Aceh, menjejaki sejarah Aceh di Tugu Benteng Kuta Khapee, memburu kepiting di tepi pantai, atau memburu pesona sunset saat senja.
Konon, Alue Naga merupakan tempat dimana dahulu kala terdapat ular besar yang disebut oleh masyarakat "Naga."  Dia berdiam di sebuah "Alue" atau sungai yang dalam. Oleh karena itulah kampung tersebut diberi nama "Alue Naga." Wallahualam
Yowes, ini dia penampakan Pesona Pantai Mahasiswa aka Alue Naga.
Alue Naga

Mandi

Pantai Mahasiswa, Alue Naga

Gelombang Pasir di Alue Naga
Terkubur butiran pasir :P


Pulau Weh, Sabang dibalik laut dan awan
Pulau Lupa Namanya

Golden Sunset

Cahaya di ufuk Pulau Aceh

Ruang Senja

Menatap Senja Merah Merona

Dibalik Pulau Aceh

Hampir Malam

Selamat Jalan Sunset, sampai jumpa di Sunrise esok ;)




Selasa, 05 Agustus 2014

Mengelilingi pulau Weh hanya dalam 3 hari (bagian 1)

 Dari batas pulau ini kami menarik garis senyum ke seluruh negeri. 
Dari ujung kota ini kami memulai mimpi-mimpi dari 0 (Nol)
Pulau ini bernama Weh
Tempat dimulai deretan serpihan surga dari titik 0 KM, Indonesia
Mendengar nama Weh mengingatkan saya akan kampung halaman. Weh Pesam, yang artinya adalah Air Panas dalam bahasa Gayo. Dulu sempat saya berpikir bahwa Pulau Weh atau yang sering dikenal dengan Sabang adalah pulau air (weh). Masuk akal memang, karena pulau ini dikelilingi oleh air dimana-mana. Apalagi perkenalan pertama saya dengan Weh adalah membaca cerita tentang keindahan bawah laut Rubiah, yaitu salah satu pulau yang terdapat di Pulau Weh tersebut. Menguatkan dugaan saya tentang keterkaitan Weh dan Air. Walaupun kebenarannya tidaklah pernah disebut-sebut orang, tapi baiklah setidaknya pulau itu benar-benar berada diantara air-air atau weh-weh. hehe
Kota Bawah Sabang
 Pulau Weh sepertinya tidak asing lagi bagi orang Indonesia. Hampir dimana-dimana selalu disebutkan, terutama Sabang, yang menjadi pusat kota pulau Weh. Sebut saja dalam lagu R. Suharjo berikut ini, yang berjudul Dari Sabang Sampai Merauke.

Dari sabang sampai merauke
Berjajar pulau-pulau
Sambung menyambung menjadi satu
Itulah Indonesia
Indonesia tanah airku
Aku berjanji padamu
Menjunjung tanah airku
Tanah airku Indonesia

    Lagu ini sedikit banyaknya berjasa dalam mengenalkan kita dengan Sabang. Selain itu, juga dari buku-buku pelajaran IPS/Sejarah yang biasanya berisi tentang Pelabuhan Bebas Sabang, 0 KM Indonesia, atau keindahan Pulau Rubiah. Sabang juga sering kita dengar dari pidato-pidato nasionalisme yang biasanya selalu menyebut-nyebut 'Sabang dan Merauke'.
   Kepopuleran Pulau ini membuat saya tertarik untuk mengunjungi dan menjelajahi keindahan pulau paling barat Indonesia. 
    Beruntung bagi saya, karena terlahir di Aceh dan kebetulan juga sedang tinggal di Banda Aceh yang jaraknya hanya memerlukan waktu 1.30 jam saja ke Pulau Weh. Bagi anda yang berada di wilayah tengah atau timur Indonesia tentu harus lebih berjuang lagi untuk menuju pulau tersebut. Nah, untuk itu, sebelum berkunjung ke Pulau Weh, ada lebih baiknya kita kenalan dulu dengan pulau tersebut.
Weh-nya Biru :P
   Pulau Weh adalah pulau vulkanik kecil yang terbentang sepanjang 15 Km (10 mil) di ujung paling utara Pulau Sumatra. Berada di Laut Andaman, tempat 2 kelompok kepulauan, yaitu Kepulauan Nikobar dan Kepulauan Andaman. Pulau ini memiliki luas 156,3 km².
   Di Pulau Weh terdapat empat pulau kecil yang mengelilingi pulau tersebut, yaitu Klah, Rubiah, Seulako, dan Rondo. Ke-empat pulau ini bisa dibilang merupakan andalan bagi wisata di Pulau Weh. Bahkan saya pernah mendengar bahwa seharusnya Pulau Rondo lah yang menjadi titik 0 Km Indonesia, karena letaknya memang paling ujung dari negara kepulauan terbesar ini, Indonesia tercinta.
   Kalau bicara soal Pulau Weh, pasti akan membahas tentang ekosistemnya. Pulau ini sudah ditetapkan oleh Pemerintah Indonesia sebagai suaka alam, yaitu sepanjang 60 km² dari tepi pulau baik ke dalam maupun ke luar. Kekayaan ekosistem di Pulau ini menjadi hal menarik untuk harus dikunjungi. sebut saja terumbu karang. Banyak spot-spot diving menarik dari pulau ini. Hiu bermulut besar juga bisa ditemukan di pantai pulau ini. Selain itu, pulau ini merupakan satu-satunya habitat katak yang statusnya terancam, yaitu Bufo valhallae (genus Bufo). Weh weh weh. AYO KE PULAU WEH!!!!

To be Continue...

Minggu, 01 Juni 2014

PASIR PUTIH LHOK MEE


  Sesuatu yang direncanakan terkadang tidak selalu terealisasi. Namun hal yang secara tiba-tiba bisa saja langsung terlaksana. Seperti siang ini misalnya, tanpa ada rencana sebelumnya langsung saja kami memutuskan untuk mengunjungi Pantai Pasir Putih di Krung Raya, Aceh Besar.
   Pantai Pasir Putih ini sering juga disebut Pantai Lhok Mee, terletak di Desa Lamreh, sekitar 30 KM dari Kota Banda Aceh atau menempuh waktu 35 menit dengan kecepatan 60Km/jam.
  Sebagai orang yang lahir dan besar di pegunungan, tentu laut menjadi hal yang istimewa. Setiap harinya kami disuguhi pemandangan hutan, bukit, dan gunung yang menjulang tinggi. Itu kenapa laut jadi salah satu euforia untuk dijadikan destinasi wisata. 
    Sudah 5 tahun lebih saya tinggal di Banda Aceh. Ibukota provinsi yang disebut Serambi Mekah. 
   Di Kota ini, laut menjadi satu hal yang tak terpisahkan. Laut menyimpan banyak kenangan bahagia sekaligus duka. Laut menjadi harapan dan tumpuan hidup bagi warga, laut menjadi penghilang duka dari kepenatan sebuah problema. Dan laut juga pernah menjadi dalang kepedihan bagi warga dunia. 
   Di kota ini, Laut pernah meluluhlantakkan negeri yang istimewa. Ia pernah memisahkan anak dari ibunya. Ia adalah Tsunami. Laut yang menunjukkan kebesaran akan takdir Tuhan. Menjadi ujian kesabaran bagi setiap warga, untuk tidak putus asa, melainkan lebih giat merajut asa dan cita-cita.
*** 
Pantai Pasir Putih dari salah satu bukit
*** 
   Rasanya hampir setiap hari saya melihat laut. Tapi begitulah, tidak pernah bosan rasanya. Selalu menenangkan dan membuat kita selalu ingat akan kebesaran Tuhan.
   Siang yang terik ini tidak menjadi alasan untuk tidak mengunjungi pantai Pasir Putih Lhok Mee. Setelah siap-siap sejenak, langsung saja kami menuju ke lokasi. 
   Sepanjang jalan menuju Pantai Pasir Putih, kita akan melewati berbagai destinasi wisata lainnya. Seperti Ujung Batee, Pantai Ladong, Benteng Indra Patra, Benteng Inong Balee, Ujung Kareng, dan Bukit Soeharto. 
   Siang ini kami memutuskan untuk menikmati dua destinasi pilihan. Bukit Soeharto dan Pantai Pasir Putih Lhok Mee.
   Setelah puas melepas rindu di bukit yang masih tak hijau, serta menikmati tempat yang menyimpan serpihan surga, kami langsung bergerak menuju Pantai Lhok Mee yang tidak jauh dari puncak bukit saat itu. 
  Tidak sulit untuk menemukan pantai Pasir Putih Lhok Mee. Disana terdapat pamplet yang menunjukkan arah menuju pantai. Pun ada penjaganya di lorong jalan, yang sudah siap meminta bayaran sebesar Rp.10.000/motor. Kurang 5 menit dari tempat penjaga tersebut, kita akan menjumpai pondok-pondok sederhana yang menjual makanan dan minuman ringan di tepi pantai. Kebanyakan menjual kelapa muda, soft drink & mie instan. Cocok dikunjungi setelah puas berenang.
   Pantai Pasir Putih Lhok Mee masih terlihat alami. Sesuai namanya, pantai tersebut memiliki pasir yang putih dengan airnya yang jernih. Berenang disini rasanya seperti berada pada tepian pulau yang terdampar. Warna biru airnya, ombak yang bersahabat, bahkan jika beruntung, kita bisa berenang dengan warna-warni ikan laut yang ada disana. Namun juga harus berhati-hati. Karang-karang tajam di pantai ini cukup bahaya untuk berenang. Tapi tenang! tidak semua garis pantai yang memiliki karang-karang tajam, jadi masih sangat aman jika anda ingin berenang di pantai tersebut. Bahkan untuk anak-anak maupun anda yang tidak bisa berenang.

Mandi bersama teman-teman

His name is Apun
    Menariknya dari pantai ini adalah terdapat beberapa pepohonon di tepi pantai. Menambah keindahan pantai tersebut. Pohon-pohon ini cukup populer dijadikan objek photo bagi para pengunjung. Jika tidak percaya, coba saja anda liat koleksi photo teman anda yang pernah berkunjung. Pohon tersebut pasti ada pada koleksi mereka.

Sendiri di Tepi Pantai
Sang Pohon & Sampan Hijau
Koleksi photo pohon ala Ilham



     Satu lagi! jika anda senang mengoleksi karang dan berbagai pernak-pernik dari laut. Sepertinya anda harus datang ke pantai ini. Di sepanjang garis pantai berserak potongan karang-karang mati dan beberapa kerang-kerang kecil yang sudah tak berpenghuni.

Kerang & Karang
Sebut saja "Karang Edelweis"
Ada yang mau?
  Jadi, tunggu apa lagi? Ayo berkunjung ke Aceh dan Pantai Pasir Putih Lhok Mee.
Ingat! jaga kebersihan dan kelestarian alam disana. Dan jaga kesopanan! ;)

   ***Dibuang sayang***
   
Pantai Lhok Mee atau Love Me? haha
She & Buaya darat :)


Cari Ikan Hias


Sampah Kelapa dimana-mana

Minggu, 25 Mei 2014

BUKIT ITU MASIH TAK HIJAU


    Cuaca siang ini cukup terik. Cukup untuk membuat badan lemas dan letih. Waktu yang tepat untuk bersantai dirumah, tanpa harus ketakutan kulit terbakar karena teriknya sang Matahari. Tapi tidak untuk kami! bahkan cuaca kemarau seperti ini adalah waktu yang cocok untuk mengunjungi salah satu bukit yang populer di Aceh. yupz! apa lagi kalau bukan Bukit Soeharto.
   Pengalaman yang pernah saya rasakan dalam penjelajahan serpihan surga di bukit soeharto tahun 2012 lalu, kembali menumbuhkan rasa rindu dengan padang tandus dan birunya lautan Krueng Raya. Merasakan sensasi panas matahari dari bukit-bukit coklat raksasa, tertawa lepas ditemani hembusan angin laut, dan menghitung hewan ternak yang sedang menikmati keringnya rerumputan di bukit-bukit. Imajinasi itu berhasil membawa saya kembali ke bukit yang jaraknya 30 KM dari pusat kota. 
    Bersama kedua adik sepupu saya, langsung saja kami meluncur menuju tempat yang dulu pernah saya sebut serpihan surga. 
   Jalan menuju Bukit Soeharto dari jembatan Cadek menuju Krung Raya lumayan bagus, bahkan di beberapa tempat seperti di jalan sebelum Pantai Tanah Unsyiah dan Indra Patra terlihat baru diperbaiki dan sangat mulus. Setelah itu, masih terlihat sama. Apalagi jika sudah memasuki kaki bukit setelah Pabrik Semen Padang. Jalannya masih rusak seperti beberapa tahun lalu saya kunjungi. Banyak lubang ditepi jalan, dan juga tidak begitu rata yang membuat jalanan terlihat bergelombang. Cukup bahaya jika tidak berhati-hati.
    Memasuki kaki bukit, suasana padang tandus sudah mulai terasa. Dari segala sisi terlihat rerumputan kering di perbukitan. Ditambah dengan pepohonon hijau yang jarang-jarang. Kebanyakan adalah pohon jambu kleng atau juga dikenal sebagai duet.

Penampakan Jambu Kleng aka Duet
     Bukit ini sepertinya memang tidak cocok jika dijadikan lahan pertanian. Itu mungkin yang menjadi alasan warga setempat untuk menjadikannya sebagai lahan pangan bagi ternak-ternak  mereka. Bahkan uniknya di bukit ini juga ada rambu kusus yang bergambar Sapi. Menunjukkan bahwa bukit ini memang dihuni oleh para sapi. Mereka sangat mudah kita temukan, seperti di puncak bukit, lereng-lereng bukit, bahkan juga sering nongkrong santai di jalanan. 

Rambu Cap Sapi :)
   Kawasan bukit Soeharto terdiri dari ratusan bukit-bukit padang rumput. Disisi kirinya terlihat lautan lepas yang sesekali timbul tenggelam. 
    Jika musim hujan, rumput-rumput ini terlihat hijau dan menyegarkan. Namun siang ini, walaupun sesekali juga diguyur hujan, tapi sang surya masih membuat bukit ini beda dari biasanya. 
     Bukit itu coklat dimana-mana, bukit itu masih tak hijau.
Sedikit Video Bukit Soeharto

Chocolate sweet

Kelok Jalan di tepi bukit

Tell me something about this
***Dibuang sayang***
Sebuah Levitation yang gatot :P
levitaca (levitasi ala Gatot Kaca)
Levidu (Levitasi tempo dulu)
No Idea
 **Sekapur Barus**
Sebuah Pesan Klasik. Halaaaah, :)

Tips ala-ala

Rabu, 21 Mei 2014

JEJAK MATAHARI DI BANDAR MA'MUR (Gampong Jawa)

  Saya termasuk orang yang kagum dengan matahari. Sosok yang melambangkan harapan, keindahan, dan ketangguhan. Tidak heran jika ada sebagian manusia yang mendewakannya. 
   Kehadiran matahari selalu dinanti. Jejaknya selalu menghasilkan sensasi yang 'tak bisa disia-siakan. Hangatnya surya panorama pagi, indahnya senja di sore hari, atau menawannya malam saat purnama tiba.
  Pada tulisan kali ini saya akan berbagi keindahan jejak matahari di Bandar Ma'mur. Salah satu destinasi wisata senja di Kota Banda Aceh.

    Mendengar nama Bandar Ma’mur sepertinya masih asing bagi sebagian orang. Nama ini dilantunkan dalam Hikayat Aceh untuk menjuluki wilayah yang disebut dengan Gampong Jawa (Kampung Jawa). Kampung ini berbatasan langsung dengan istana utama Aceh yang disebut dengan Gampong Pande Meunasah Kandang atau Gampong Pande.
  Gampong Jawa terletak sekitar 3Km dari pusat kota. Berbatasan dengan Gampong Pande disebelah barat, Selat Melaka di sebelah utara, Gampong Peulanggahan disebelah selatan, dan sebelah timur dengan Krueng Aceh, yang merupakan sungai yang membelah ibukota negeri Serambi Mekkah.
   Ada yang miris ketika berbicara mengenai Kutaradja. Tempat yang dulunya pernah menjadi pelabuhan bagi para jamaah haji dan merupakan wilayah yang notabene adalah situs dari sejarah kerajaan Aceh, namun ternyata dijadikan tempat pembuangan sampah ibu kota. Padahal jika ditelaah lagi daerah tersebut masuk istana bagian dalam kerajaan Aceh di Kutaradja. Hal ini banyak menjadi keresahan masyarakat dan para pecinta sejarah. Penempatannya yang tidak jauh dari kota, serta sangat dekat dengan laut menjadi mengerikan jika sampah-sampah itu terus menumpuk dari waktu  ke waktu. Semoga saja pemerintah daerah sudah memimikirkan dengan matang sebab dan akibatnya atas pilihan tersebut.
   Dibalik gunungan sampah-sampah tersebut, ternyata Gampong Jawa memiliki pesona yang tidak biasa. Jejak-jejak matahari menorehkan keindahan yang luar biasa. Di Pantai Gampong Jawa ini  kita bisa menjadi saksi tenggelamnya matahari dari balik pulau Aceh atau senja merah yang mewarnai pulau Weh, Sabang. Merupakan tempat yang sempurna untuk menikmati jejak sang matahari. Hal ini dapat terlihat dari antusias masyarakat kota yang selalu memadati pantai tersebut saat sore tiba.
   Selain menarik untuk menikmati senja bersama sahabat atau keluarga, pantai ini juga sangat populer dijadikan spot memancing bagi warga kota.
   Untuk menikmati jejak matahari di Gampong Jawa, anda tidak terlalu sulit mencarinya. Letaknya sekitar 100 meter dari gapura kampung Jawa. Melewati gunungan sampah TPA (Tempat Pengolahan Akhir), kita langsung dapat menikmati lautan lepas yang indah. Pantai yang menjadi persinggahan matahari, meninggalkan jejak-jejak fajar dan senja yang mengobati sanubari.
Selamat berkunjung! :)
Video Jejak Sang Matahari
Dibalik Pulau Aceh
Kapal Bermandi Senja
Memancing
Spion
Weh dan Anak Lelaki


Revolusi Jejak Senja