468x60 Ads

RELIGION CORNER
TRAVEL STORY
HEALTH INFO
FEATURES STORY
TALKING BUSINESS
CULTURE/ART
Tampilkan postingan dengan label PERSONAL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PERSONAL. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 Agustus 2014

Mengelilingi pulau Weh hanya dalam 3 hari (bagian 1)

 Dari batas pulau ini kami menarik garis senyum ke seluruh negeri. 
Dari ujung kota ini kami memulai mimpi-mimpi dari 0 (Nol)
Pulau ini bernama Weh
Tempat dimulai deretan serpihan surga dari titik 0 KM, Indonesia
Mendengar nama Weh mengingatkan saya akan kampung halaman. Weh Pesam, yang artinya adalah Air Panas dalam bahasa Gayo. Dulu sempat saya berpikir bahwa Pulau Weh atau yang sering dikenal dengan Sabang adalah pulau air (weh). Masuk akal memang, karena pulau ini dikelilingi oleh air dimana-mana. Apalagi perkenalan pertama saya dengan Weh adalah membaca cerita tentang keindahan bawah laut Rubiah, yaitu salah satu pulau yang terdapat di Pulau Weh tersebut. Menguatkan dugaan saya tentang keterkaitan Weh dan Air. Walaupun kebenarannya tidaklah pernah disebut-sebut orang, tapi baiklah setidaknya pulau itu benar-benar berada diantara air-air atau weh-weh. hehe
Kota Bawah Sabang
 Pulau Weh sepertinya tidak asing lagi bagi orang Indonesia. Hampir dimana-dimana selalu disebutkan, terutama Sabang, yang menjadi pusat kota pulau Weh. Sebut saja dalam lagu R. Suharjo berikut ini, yang berjudul Dari Sabang Sampai Merauke.

Dari sabang sampai merauke
Berjajar pulau-pulau
Sambung menyambung menjadi satu
Itulah Indonesia
Indonesia tanah airku
Aku berjanji padamu
Menjunjung tanah airku
Tanah airku Indonesia

    Lagu ini sedikit banyaknya berjasa dalam mengenalkan kita dengan Sabang. Selain itu, juga dari buku-buku pelajaran IPS/Sejarah yang biasanya berisi tentang Pelabuhan Bebas Sabang, 0 KM Indonesia, atau keindahan Pulau Rubiah. Sabang juga sering kita dengar dari pidato-pidato nasionalisme yang biasanya selalu menyebut-nyebut 'Sabang dan Merauke'.
   Kepopuleran Pulau ini membuat saya tertarik untuk mengunjungi dan menjelajahi keindahan pulau paling barat Indonesia. 
    Beruntung bagi saya, karena terlahir di Aceh dan kebetulan juga sedang tinggal di Banda Aceh yang jaraknya hanya memerlukan waktu 1.30 jam saja ke Pulau Weh. Bagi anda yang berada di wilayah tengah atau timur Indonesia tentu harus lebih berjuang lagi untuk menuju pulau tersebut. Nah, untuk itu, sebelum berkunjung ke Pulau Weh, ada lebih baiknya kita kenalan dulu dengan pulau tersebut.
Weh-nya Biru :P
   Pulau Weh adalah pulau vulkanik kecil yang terbentang sepanjang 15 Km (10 mil) di ujung paling utara Pulau Sumatra. Berada di Laut Andaman, tempat 2 kelompok kepulauan, yaitu Kepulauan Nikobar dan Kepulauan Andaman. Pulau ini memiliki luas 156,3 km².
   Di Pulau Weh terdapat empat pulau kecil yang mengelilingi pulau tersebut, yaitu Klah, Rubiah, Seulako, dan Rondo. Ke-empat pulau ini bisa dibilang merupakan andalan bagi wisata di Pulau Weh. Bahkan saya pernah mendengar bahwa seharusnya Pulau Rondo lah yang menjadi titik 0 Km Indonesia, karena letaknya memang paling ujung dari negara kepulauan terbesar ini, Indonesia tercinta.
   Kalau bicara soal Pulau Weh, pasti akan membahas tentang ekosistemnya. Pulau ini sudah ditetapkan oleh Pemerintah Indonesia sebagai suaka alam, yaitu sepanjang 60 km² dari tepi pulau baik ke dalam maupun ke luar. Kekayaan ekosistem di Pulau ini menjadi hal menarik untuk harus dikunjungi. sebut saja terumbu karang. Banyak spot-spot diving menarik dari pulau ini. Hiu bermulut besar juga bisa ditemukan di pantai pulau ini. Selain itu, pulau ini merupakan satu-satunya habitat katak yang statusnya terancam, yaitu Bufo valhallae (genus Bufo). Weh weh weh. AYO KE PULAU WEH!!!!

To be Continue...

Minggu, 01 Juni 2014

PASIR PUTIH LHOK MEE


  Sesuatu yang direncanakan terkadang tidak selalu terealisasi. Namun hal yang secara tiba-tiba bisa saja langsung terlaksana. Seperti siang ini misalnya, tanpa ada rencana sebelumnya langsung saja kami memutuskan untuk mengunjungi Pantai Pasir Putih di Krung Raya, Aceh Besar.
   Pantai Pasir Putih ini sering juga disebut Pantai Lhok Mee, terletak di Desa Lamreh, sekitar 30 KM dari Kota Banda Aceh atau menempuh waktu 35 menit dengan kecepatan 60Km/jam.
  Sebagai orang yang lahir dan besar di pegunungan, tentu laut menjadi hal yang istimewa. Setiap harinya kami disuguhi pemandangan hutan, bukit, dan gunung yang menjulang tinggi. Itu kenapa laut jadi salah satu euforia untuk dijadikan destinasi wisata. 
    Sudah 5 tahun lebih saya tinggal di Banda Aceh. Ibukota provinsi yang disebut Serambi Mekah. 
   Di Kota ini, laut menjadi satu hal yang tak terpisahkan. Laut menyimpan banyak kenangan bahagia sekaligus duka. Laut menjadi harapan dan tumpuan hidup bagi warga, laut menjadi penghilang duka dari kepenatan sebuah problema. Dan laut juga pernah menjadi dalang kepedihan bagi warga dunia. 
   Di kota ini, Laut pernah meluluhlantakkan negeri yang istimewa. Ia pernah memisahkan anak dari ibunya. Ia adalah Tsunami. Laut yang menunjukkan kebesaran akan takdir Tuhan. Menjadi ujian kesabaran bagi setiap warga, untuk tidak putus asa, melainkan lebih giat merajut asa dan cita-cita.
*** 
Pantai Pasir Putih dari salah satu bukit
*** 
   Rasanya hampir setiap hari saya melihat laut. Tapi begitulah, tidak pernah bosan rasanya. Selalu menenangkan dan membuat kita selalu ingat akan kebesaran Tuhan.
   Siang yang terik ini tidak menjadi alasan untuk tidak mengunjungi pantai Pasir Putih Lhok Mee. Setelah siap-siap sejenak, langsung saja kami menuju ke lokasi. 
   Sepanjang jalan menuju Pantai Pasir Putih, kita akan melewati berbagai destinasi wisata lainnya. Seperti Ujung Batee, Pantai Ladong, Benteng Indra Patra, Benteng Inong Balee, Ujung Kareng, dan Bukit Soeharto. 
   Siang ini kami memutuskan untuk menikmati dua destinasi pilihan. Bukit Soeharto dan Pantai Pasir Putih Lhok Mee.
   Setelah puas melepas rindu di bukit yang masih tak hijau, serta menikmati tempat yang menyimpan serpihan surga, kami langsung bergerak menuju Pantai Lhok Mee yang tidak jauh dari puncak bukit saat itu. 
  Tidak sulit untuk menemukan pantai Pasir Putih Lhok Mee. Disana terdapat pamplet yang menunjukkan arah menuju pantai. Pun ada penjaganya di lorong jalan, yang sudah siap meminta bayaran sebesar Rp.10.000/motor. Kurang 5 menit dari tempat penjaga tersebut, kita akan menjumpai pondok-pondok sederhana yang menjual makanan dan minuman ringan di tepi pantai. Kebanyakan menjual kelapa muda, soft drink & mie instan. Cocok dikunjungi setelah puas berenang.
   Pantai Pasir Putih Lhok Mee masih terlihat alami. Sesuai namanya, pantai tersebut memiliki pasir yang putih dengan airnya yang jernih. Berenang disini rasanya seperti berada pada tepian pulau yang terdampar. Warna biru airnya, ombak yang bersahabat, bahkan jika beruntung, kita bisa berenang dengan warna-warni ikan laut yang ada disana. Namun juga harus berhati-hati. Karang-karang tajam di pantai ini cukup bahaya untuk berenang. Tapi tenang! tidak semua garis pantai yang memiliki karang-karang tajam, jadi masih sangat aman jika anda ingin berenang di pantai tersebut. Bahkan untuk anak-anak maupun anda yang tidak bisa berenang.

Mandi bersama teman-teman

His name is Apun
    Menariknya dari pantai ini adalah terdapat beberapa pepohonon di tepi pantai. Menambah keindahan pantai tersebut. Pohon-pohon ini cukup populer dijadikan objek photo bagi para pengunjung. Jika tidak percaya, coba saja anda liat koleksi photo teman anda yang pernah berkunjung. Pohon tersebut pasti ada pada koleksi mereka.

Sendiri di Tepi Pantai
Sang Pohon & Sampan Hijau
Koleksi photo pohon ala Ilham



     Satu lagi! jika anda senang mengoleksi karang dan berbagai pernak-pernik dari laut. Sepertinya anda harus datang ke pantai ini. Di sepanjang garis pantai berserak potongan karang-karang mati dan beberapa kerang-kerang kecil yang sudah tak berpenghuni.

Kerang & Karang
Sebut saja "Karang Edelweis"
Ada yang mau?
  Jadi, tunggu apa lagi? Ayo berkunjung ke Aceh dan Pantai Pasir Putih Lhok Mee.
Ingat! jaga kebersihan dan kelestarian alam disana. Dan jaga kesopanan! ;)

   ***Dibuang sayang***
   
Pantai Lhok Mee atau Love Me? haha
She & Buaya darat :)


Cari Ikan Hias


Sampah Kelapa dimana-mana

Minggu, 25 Mei 2014

BUKIT ITU MASIH TAK HIJAU


    Cuaca siang ini cukup terik. Cukup untuk membuat badan lemas dan letih. Waktu yang tepat untuk bersantai dirumah, tanpa harus ketakutan kulit terbakar karena teriknya sang Matahari. Tapi tidak untuk kami! bahkan cuaca kemarau seperti ini adalah waktu yang cocok untuk mengunjungi salah satu bukit yang populer di Aceh. yupz! apa lagi kalau bukan Bukit Soeharto.
   Pengalaman yang pernah saya rasakan dalam penjelajahan serpihan surga di bukit soeharto tahun 2012 lalu, kembali menumbuhkan rasa rindu dengan padang tandus dan birunya lautan Krueng Raya. Merasakan sensasi panas matahari dari bukit-bukit coklat raksasa, tertawa lepas ditemani hembusan angin laut, dan menghitung hewan ternak yang sedang menikmati keringnya rerumputan di bukit-bukit. Imajinasi itu berhasil membawa saya kembali ke bukit yang jaraknya 30 KM dari pusat kota. 
    Bersama kedua adik sepupu saya, langsung saja kami meluncur menuju tempat yang dulu pernah saya sebut serpihan surga. 
   Jalan menuju Bukit Soeharto dari jembatan Cadek menuju Krung Raya lumayan bagus, bahkan di beberapa tempat seperti di jalan sebelum Pantai Tanah Unsyiah dan Indra Patra terlihat baru diperbaiki dan sangat mulus. Setelah itu, masih terlihat sama. Apalagi jika sudah memasuki kaki bukit setelah Pabrik Semen Padang. Jalannya masih rusak seperti beberapa tahun lalu saya kunjungi. Banyak lubang ditepi jalan, dan juga tidak begitu rata yang membuat jalanan terlihat bergelombang. Cukup bahaya jika tidak berhati-hati.
    Memasuki kaki bukit, suasana padang tandus sudah mulai terasa. Dari segala sisi terlihat rerumputan kering di perbukitan. Ditambah dengan pepohonon hijau yang jarang-jarang. Kebanyakan adalah pohon jambu kleng atau juga dikenal sebagai duet.

Penampakan Jambu Kleng aka Duet
     Bukit ini sepertinya memang tidak cocok jika dijadikan lahan pertanian. Itu mungkin yang menjadi alasan warga setempat untuk menjadikannya sebagai lahan pangan bagi ternak-ternak  mereka. Bahkan uniknya di bukit ini juga ada rambu kusus yang bergambar Sapi. Menunjukkan bahwa bukit ini memang dihuni oleh para sapi. Mereka sangat mudah kita temukan, seperti di puncak bukit, lereng-lereng bukit, bahkan juga sering nongkrong santai di jalanan. 

Rambu Cap Sapi :)
   Kawasan bukit Soeharto terdiri dari ratusan bukit-bukit padang rumput. Disisi kirinya terlihat lautan lepas yang sesekali timbul tenggelam. 
    Jika musim hujan, rumput-rumput ini terlihat hijau dan menyegarkan. Namun siang ini, walaupun sesekali juga diguyur hujan, tapi sang surya masih membuat bukit ini beda dari biasanya. 
     Bukit itu coklat dimana-mana, bukit itu masih tak hijau.
Sedikit Video Bukit Soeharto

Chocolate sweet

Kelok Jalan di tepi bukit

Tell me something about this
***Dibuang sayang***
Sebuah Levitation yang gatot :P
levitaca (levitasi ala Gatot Kaca)
Levidu (Levitasi tempo dulu)
No Idea
 **Sekapur Barus**
Sebuah Pesan Klasik. Halaaaah, :)

Tips ala-ala

Sabtu, 25 Mei 2013

ASAL MULA TRADISI LIBUR DI HARI MINGGU

     Kalo udah malam minggu rasanya pingin ambil selimut buat ngelap keringat waktu baca status FB atau tweet (secara tisu gak cukup nampung cuy, hehe).
    Ada yang kegirangan baru diajak kencan, ada yang galau karna pacarnya jauh, dan yang parah yang JOMBLO. Emang beda ya rasanya jomblo di malam minggu sama malam senin atau selasa, atau malam lainnya? perasaan juga tetap gakda pacar. Mau diapain lagi? hadeeeeh.
     BTW, Sebegitu spesialkah malam minggu itu? oke! gakda salahnya juga sih malam minggu dijadiin malam spesial. Alasannya besok libur sekolah/kuliah/kantor (kalo nganggur emang libur tiap ari, jadi gak usah disebutin ya, hehe peace guys!).
     Sementara kita sampingkan dulu ya yang punya alasan malam minggu spesial karena ngedate bareng pacar (nanti buat penulis berlinang air mata, haalaaah apaan itu).
     BTW, tau gak kenapa hari minggu itu libur dan selalu tanggal merah? yang ujung-ujungnya malam menyambut libur dijadiin malam yang spesial dari malam lainnya? begini kisahnya. Langsung ke T.K.P !. :D
     Tradisi libur di hari Minggu itu berasal dari tradisi Romawi Kuno di Italia. Pada saat itu orang Romawi Kuno beribadah di hari Minggu. Oleh kerena itu, orang Romawi libur di hari Minggu. Selain itu, orang Romawi selalu menandai hari libur dan hari penting lainnya dengan warna merah.
      Waktu itu orang Romawi menguasai banyak Negara di Eropa. Kekuasaan Romawi sampai Belanda, Inggris, Prancis, Jerman, dan lain- lain. Tradisi libur di hari Minggu kemudian diterapkan di Negara- Negara jajahan Romawi. Negara Belanda kemudian menjajah Indonesia selama 350 tahun yang kemudian mempengaruhi hari libur di Indonesia.
      Sampai sekarang, tradisi libur di hari Minggu masih dipakai di Indonesia. Alasannya, selama 6 hari orang sudah bekerja keras dan perlu libur. Pemerintah Indonesia menetapkan hari Minggu sebagai libur Nasional. Kalender Indonesia juga mewarnai hari libur lainnya dengan warna merah. Tradisi libur di hari Minggu tetap dipakai di banyak Negara sampai sekarang. Termasuk juga menandai tanggal- tanggal penting dengan warna merah.
     Nah! itu dia cuy sejarahnya. Cukup sekian dan terima kasih. Saatnya narik selimut lagi. hehe

Jumat, 24 Mei 2013

Ramalan sang Kakek Misterius

Gokil bro.. !!!
Tadi pagi aku di ramal sama kakek-kakek misterius.
Dia dateng ke studio nyiar, trus minta kenalan.
Gak lama itu tangan kiri aku di pegang & dibaca telapak tangannya.

Kakek: "masa depan kamu cerah nak."
(sepontan aku senang dong, hehe)
Aku: "amin, alhamdulillah."
Kakek: "kamu banyak keberuntungan. ya kan?!
(aku mengangguk lagi, hehe)"

Did you know?! si kakek bilang aku bakal dapet istri yang cantik. Katanya dia bukan guru, tapi kerja di kantoran, bisa Bank atau instansi lainnya.
Siapa yang gak seneng coba dibilang yang baik-baik gitu??? ahahahah.
Kita liat entar deh kebenaran ramalannya.
Tapi kalau pun betul, itu memang sudah ditakdirkan oleh ALlah SWT. Semoga :D